#8 Weekly Sharing : Belajar Stoicisme - Mungkin Kamu Membutuhkannya Lebih di Hidupmu

Hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita, naturally. Orang yang kamu cintai meninggalkanmu, hubunganmu dengan orang tuamu tidak berjalan dengan baik, temanmu menghianatimu, kamu kehilangan pekerjaanmu, kamu terkena kanker, seluruh dunia membencimu, atau oh kamu masuk penjara dan seterusnya dan seterusnya. Well yeah indeed life is difficult, namun bagaimana kamu menghadapi masalah seperti ini?

Ada sebuah cabang filosofi yang dibuat untuk membantu kamu menghadapi keadaan buruk tersebut, yaitu Stoicisme. Tenang saja, tidak seperti cabang filosofi yang lain, Stoicisme mudah dipelajari dan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari kok. Kalau kata penulis buku The Daily Stoic, Ryan Holiday, “Stoicisme mungkin adalah hal terakhir yang ingin kamu pelajari” tapi believe me, it is awesome.


Ilustrasi beranda, tempat Zeno dan murit-muritnya belajar Stoicisme

Sekilas tentang Stoicisme, dulunya Stoic merupakan sekolah filosofi yang didirikan oleh Zeno of Citium di Atena pada awal abad ke 3 SM. Kata Stoic sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti beranda, karena dulunya Zeno mengajarkan filosofi kepada murit-muritnya di beranda.

Ajaran utama Stoicisme berfokus pada etika. Salah satunya ajarannya adalah pada tindakan kita yaitu dengan membedakan hal-hal dalam kontrol kita dan hal-hal di luar kontrol kita. Dalam kontrol kita diantaranya adalah pendapat kita, pilihan kita, keinginan kita dan segala sesuatu yang kita lakukan sendiri. Bukan kontrol kita termasuk bentuk tubuh kita, harta kita, status kita dan segala sesuatu yang tidak kita lakukan sendiri. Sumber ketidakbahagiaan kita adalah mencoba mengontrol hal-hal yang di luar kontrol kita. Dan dengan melakukan sebaliknya kita akan mendapatkan penguasaan diri, kebijaksanaan dan ketenangan.

Banyak dari tokoh-tokoh Stoic yang menginspirasi ajaran-ajaran Stoicisme ini. Ada 3 tokoh terkenal dari Stoicisme, yaitu Marcus Aurelius seorang raja di kerajaan romawi yang setiap hari menulis untuk dirinya sendiri pesan-pesan tentang penguasaan diri, kasih sayang dan kerendahan hati; Seneca seorang tutor yang kemudian menjadi penasihat kaisar Nero, namun pada akhirnya diminta untuk bunuh diri dengan memotong seluruh nadi ditubuhnya oleh Nero karena dituduh merencanakan pemberontakan; dan Epictetus seorang budak yang kemudian menjadi guru filosofi yang lewat murit-muritnya kita mengetahui banyak tentang Stoicisme. Sehingga dari kalangan aristokrat sampai budak, mereka mempraktikkan stoicisme ini, karena memang sangat berguna dalam hidup. Pun demikian pada saat ini, filosofi Stoicisme digunakan sebagai dasar dari psikoterapi Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terapi untuk menyembuhkan berbagai penyakit kejiwaan. Dan kini filosofi ini dipraktikkan oleh berbagai kalangan seperti presiden, pengusaha, manager, ilmuan, programmer, designer, guru, ibu rumah tangga dan khususnya semua orang yang ingin menjadi orang yang lebih bahagia.

Banyak kalangan mendeskripsikan Stoicisme sebagai a way of life (lex divina) yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Tiga latihan berikut membantumu untuk memulai untuk menjadi lebih stoic.

Latihan Kesialan

“It is in times of security that the spirit should be preparing itself for difficult times;
while fortune is bestowing favors on it is then is the time for it to be strengthened against her rebuffs.” — Seneca

Seperti kata Seneca diatas, para stoic menyarankan bahwa sebulan sekali, pakailah pakaian terjelekmu, tidur hanya diatas lantai dan memakan makanan yang tidak enak. melakukan hal tersebut untuk menyadari bahwa, meskipun suatu hari kamu berada dalam keadaan yang seperti itu seperti misalnya rumahmu kebakaran, yang membuat kamu kehilangan seluruh harta benda termasuk pakaianmu yang bagus-bagus itu, toh kamu masih bisa melewatinya.

Pada masa sekarang, kita sangat terikat dengan hal-hal yang jika kita tanpa mereka, kita akan menjadi cemas, menjadi bukan diri kita dan membuat kita merasa tidak utuh. Hal-hal ini seperti handphone, internet, sosial media, musik, televisi, dan mungkin makeup. Batere HP tinggal 10% kamu sudah buru-buru cari charger, internet lemot udah marah-marah di Twitter, nunggu antri beli martabak sambil scroll Instagram, wifi di kantor mati sudah bingung mau ngapain, dan seterusnya dan seterusnya. Lihat, kita begitu cemas dan takut.

Dengan menerapkan Latihan Kesialan ini, cobalah hidup sehari tanpa hal-hal tersebut, lakukan evaluasi terhadap apa yang kamu rasakan saat tidak bersama mereka. Tulis hal-hal yang membuatmu merasa cemas, atau takut dan katakan pada dirimu sendiri, ‘Oh, ternyata ketakutanku itu hanya karena … toh 🤔 ’. Tentu saja awalnya sulit, namun dengan latihan seperti ini kamu pada akhirnya menyadari toh tanpa mereka, kita masih diri kita. Dan jika kamu berhasil, semestinya kamu bukan lagi budak atas hasrat kepuasan sementara itu.

Karena tujuan dari Latihan kesialan ini adalah mengurangi dan bahkan menghilangkan keterikatan dan posesi. Sehingga kamu lebih kuat menghadapi ketakutan dan kecemasan ketika kehilangan atau tidak memiliki hal-hal yang membuatmu terikat tersebut. Seperti kata Seneca “We suffer more in imagination than in reality.” kecemasan dan ketakutan kita mungkin hanya di imajinasi kita saja.

Melatih persepsi untuk mengindari yang baik dan buruk

Bagi orang-orang Stoic, tidak ada yang baik atau buruk. Baik atau buruh hanyalah nilai yang diberikan oleh persepsi kita, dan kita sendirilah yang mengendalikan persepsi kita.

“The impediment to action advances action. What stands in the way becomes the way.” — Marcus Aurelius

Halangan, bisa menjadi baik atau buruk, tergantung persepsimu, sudut pandangmu, bagaimana kamu mengintepretasikan halangan tersebut sesuai konteksmu.

Kita sekarang hidup dalam masyarakat yang menganggap bahwa jika kita hidup, tidak memiliki banyak uang, tidak memiliki pekerjaan bergengsi atau masih jomblo, kita hidup dalam stigma bahwa hidup kita adalah kegagalan. Apakah tidak memiliki banyak uang, tidak memiliki pekerjaan bergengsi, atau tidak memiliki pasangan merupakan kegagalankah? Pendapat umum mungkin mengatakan hal-hal tersebut adalah kegagalan, namun bisa saja kamu berlainan pendapat. Toh, mengapa kita harus hidup mengikuti pendapat umum dan bertentangan dengan diri kita sendiri.

Kegagalan atau kesuksesan itu sangat bergantung pada persepsimu. Misal, dengan memiliki sedikit uang kamu dapat belajar hidup dengan sederhana, dengan memiliki pekerjaan yang biasa-biasa saja kamu terbebas dari keinginanmu untuk mendapatkan status dan penghormatan atas posisimu, dan dengan hidup sendiri (jomblo), bukannya seharusnya lebih mudah yah? Harta, status dan orang yang kita cintai dapat pergi begitu saja dalam hidupmu, tanpa terlalu banyak posesi terhadap mereka, hidupmu jauh dari kecemasan dan ketakutan akan kehilangan.

Lagian, seperti kata Epictetus “… fridom isn’t secured by filling up on your heart’s desire but by removing your desire.” Ada dua cara mencapai kesuksesan, yaitu memiliki semua yang kamu inginkan, atau menginginkan semua yang kamu miliki. Sukses atau gagal, hanya sebatas persepsimu saja, jadi sebenarnya kamu sudah sukses sekarang. 😬

Mengingat bahwa semuanya hanya sementara

Kadang yang kamu butuhkan adalah meluangkan waktumu untuk memandang bulan dan bintang-bintang di langit, dan menyadari bahwa kita sangat kecil, umur hidup kita sangat terbatas, dan kita bukan apa-apa di alam semesta ini.


Hubble’s trusty Wide Field Camera 3 (WFC3) has captured a striking view of two interacting galaxies located some 60 million light-years away in the constellation of Leo (The Lion)

Karena dalam hidup, hal-hal buruk mungkin terjadi, orang-orang Stoic menyarankan untuk kita menjadi lebih pesimis. Jika kamu berfikir pesimis adalah kata yang negatif, itu wajar saja. Lagipula pada generasi kita sekarang ini, penuh sekali dengan para motivator optimis. 😅 Namun yang dimaksud dengan menjadi pesimis disini adalah dengan mengharapkan semua hal baik atau buruk terjadi pada kita. Karena orang Stoic percaya bahwa yang menyebabkan kita merasa cemas dan tidak bahagia adalah adanya kesenjangan antara ketakutan kita dan harapan kita terhadap hal yang mungkin terjadi. Untuk mendapatkan ketenangan hidup, kita harus secara teliti, menghancurkan seluruh harapan-harapan kita, dan membiasakan diri dengan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Sehingga ketika mereka datang, kita telah siap secara psikologis.

Tentu saja sangat mungkin kita menjadi korban bullying, seseorang melakukan pelecehan seksual terhadap kita, usaha kita gagal dan memiliki hutang yang banyak, atau mungkin dituduh merencanakan pemberontakan negara, segalanya mungkin. Dan bisa jadi hari-hari lalumu adalah hari terbaik dalam hidupmu karena besok ada kanker di payudaramu. Namun, kamu tidak sendiri, saat ini sekarang juga ada orang yang merasakan hal yang sama, bahkan 100 tahun lalu, 500 tahun lalu, atau 2000 tahun lalu ada orang yang merasakan hal yang sama, kecemasan yang sama dan memiliki ketakutan yang sama namun dimana mereka? mereka akhirnyapun telah tiada.

Mengingat bahwa semuanya akan berlalu, membuat kita mudah untuk melalui masa-masa sulit dalam hidup. Karena seperti kata Seneca, “What need is there to weep over parts of life? The whole of it calls for tears.” Bahkan seluruh hidup kita pantas untuk ditangisi. Nah, jika semuanya hanya sementara, yang terpenting bagi orang Stoic adalah Sekarang, menjadi orang baik dan melakukan hal yang benar saat ini, itulah yang penting.

Selain ketiga latihan diatas, tentunya masih banyak sekali yang dapat kamu pelajari dari para tokoh-tokoh Stoic, dan karena Stoicisme sudah ada sejak lebih dari 2000 tahun lalu, banyak sekali sumber-sumber yang dapat kamu temukan, mulai dari buku, blog, podcast, video dll. Jadi tidak ada yang menghalangimu untuk menjadi lebih Stoic. 😜

Itu semua yang kita butuhkan, mari lanjutkan hidup.
☕️

Terimakasih.

source:

Ditulis oleh : Umriya Afini (front end developer of MailTarget)
Disunting oleh : MailTarget Team

*) Weekly sharing adalah sebuah kegiatan berdiskusi yang dilakukan oleh tim MailTarget. Para anggota tim MailTarget setiap minggunya secara bergiliran menjadi pemateri dari sesi berdiskusi tersebut.


MailTarget.co adalah sebuah perusahaan SaaS (software as a service) yang membuat email system dengan teknologi artificial intelligence.