Yopie Suryadi melakukan wawancara dengan pihak Selasar

Pada dasarnya startup adalah memulai sesuatu bisnis atau bidang usaha. Seseorang mendirikan warung untuk berjualan juga dapat dikategorikan sebagai startup :).

Namun efek dari media pada akhir-akhir ini menjadikan kata startup sebagai sebuah tren dan memberikan kesan “keren”.

Anyway, saya akan menceritakan sedikit pengalaman dari apa yang telah saya lalui.

Langkah-langkah dalam memulai suatu startup:

Validate the idea.

Ide itu ada dimana-mana (kalau nggak mau disebut murah hehe). Kita sering mendapatkan ide kapan saja dan dimana saja. Nah, permasalahan utamanya adalah proses eksekusi. Bagian inilah yang menjadikan suatu ide berharga mahal karena membutuhkan adanya tenaga, fokus, biaya, dan semangat pantang menyerah.

Satu pertanyaan penting mengenai ide ini sebelum pada akhirnya dilanjutkan ke tahapan berikutnya, yaitu “is this a nice to have?”.

Apakah ide tersebut hanya terbatas pada kata “keren” atau ide tersebut dapat membantu memecahkan permasalahan banyak orang? Saya selalu melatih diri untuk dapat melihat problem di dalam lingkungan sekitar. Buatlah suatu mindset bahwa “masalah adalah berkah”.

Ada sebuah quotes yang bertuliskan, “the world biggest problem is the world biggest business opportunity”.

Lalu, bagaimana cara memvalidasi suatu ide?

  • Cari suatu permasalahan.
  • Cari orang yang paling dirugikan dengan adanya permasalahan tersebut
  • Komunikasikan solusi yang Anda miliki kepada orang-orang tersebut, apakah akan sangat membantu mereka?
  • Apabila membantu, kemudian Anda berikan pertanyaan selanjutnya, apakah mereka akan bersedia membayar untuk solusi tersebut?

Berdasarkan poin-poin tersebut, Anda dapat menarik suatu kesimpulan yang dapat dijadikan suatu jawaban, apakah ide ini layak untuk dieksekusi atau tidak.

Co-founders

Anda tentu dapat berlari dengan cepat, apabila meng-handle segala sesuatunya seorang diri. Namun, bukan itu esensi dari menjalankan suatu startup. Tentu saja, kita mengehendaki untuk dapat berlari dengan cepat dalam jangka waktu yang panjang. Banyak sekali kasus dimana sebuah startup dapat sukses hanya dengan satu founder (contoh: Dropbox). Akan tetapi, banyak sekali yang dapat kita lihat juga bahwa startup tidak akan mengalami pertumbuhan apabila hanya seorang diri. Selain itu, Anda akan merasa lelah yang luar biasa di tengah perjalanan startup yang sedang dibangun.

Semisal Anda adalah seorang technical guy (programmer, dll), maka Anda akan membutuhkan seseorang dari sisi non-technical untuk dapat mempertajam suatu ide dan menghasilkan sebuah produk bagus dengan kualitas yang maksimal. Ingat, suatu pedang yang dapat terbentuk tajam dan bagus karena telah dipanaskan dan ditempa oleh besi lainnya. Sama halnya dengan pertumbuhan suatu startup.

Memilih seorang co-founders tentu bukan sesuatu yang dapat dilakukan secara asal-asalan. Ada hal yang perlu diperhatikan dalam memilih co-founders:

  • Memiliki visi yang sama. Anda sudah tahu kemana arah startup ini akan berlayar. Anda sudah mempunyai gambaran besar tentang ini. Yang perlu Anda lakukan adalah mencari orang yang memiliki visi sama dengan Anda.
  • Chemistry. Kecocokan secara chemistry belum tentu berupa kesamaan dalam bentuk hobi, cara berpakaian, dan hal-hal lainnya. Kecocokan yang dimaksud adalah dalam bentuk saling mengisi kelemahan dan saling mendorong pertumbuhan pada area yang kita kuasai.
  • Hitam diatas putih. Penting untuk membicarakan semua hal sampai untuk mencegah segala macam kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa depan. Memang nggak enak membicarakan hal ini, akan tetapi lebih baik berjaga-jaga di awal daripada hancur dalam perjalanan.

Development

Tahapan berikutnya adalah mulai membangun apa yang telah menjadi mimpi Anda. Setelah tahap 1 dan 2 dilewati, mulailah dalam pembangunan produk sampai menjadi prototype atau biasa disebut dengan MVP (Minimum Viable Product). Perlu saya tambahkan, untuk saat ini MVP sudah berubah menjadi MSP (Minimum Sellable Product). At least, pada tahap ini Anda sudah bisa mendapatkan 5 sampai dengan 10 customer pertama. Pada tahapan ini semua hal akan menjadi lebih berat ke dalam teknis seperti beberapa hal di bawah ini:

  • menentukan design
  • menentukan resource (server, website, dll)
  • membangun infrastruktur
  • beta testing

Go to market

Timing sangat menentukan kesuksesan sebuah produk. Bisa dibayangkan jika ternyata proses development Anda memakan waktu sampai dengan 1 tahun. Berapa banyak biaya dan tenaga yang sudah Anda habiskan selama kurun waktu tersebut. Saya bersama dengan team MailTarget melakukan development selama 3 bulan dan mulai live serta mencari customer pada bulan ke 4. Bersyukur kami memenuhi syarat product fit market, dalam artian memang pasar dan kebutuhannya ada.

Anda harus memiliki small market strategy, siapakah sasaran target market Anda? Nailed your niche. Apabila ada seseorang yang bertanya kepada Anda mengenai produk yang dihasilkan untuk siapa, menjadi sebuah kesalahan besar apabila Anda memberikan jawaban bahwa produk tersebut diperuntukan bagi semua orang.

Ingat, Facebook pada awalnya hanya diperuntukkan bagi mahasiswa Harvard ajaloh.

“Solve small problems well. Start small, stay focused, and have a clear value proposition.”

Funding

Nah ini adalah topik yang sangat menarik dan rame ya untuk dibahas. Yes, nggak bisa dipungkiri pendanaan merupakan salah satu yang paling penting dalam urusan startup ini. Ada juga startup yang melakukan pendanaan sendiri dan berhasil. Tapi ada juga startup yang memang dalam perencanaan dan eksekusinya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai BEP (Break Even Point). Untuk mendapatkan funding ini Anda harus mempunyai pitch deck atau investment proposal yang bisa ditujukan kepada relasi, keluarga, VC (Venture Capital), ataupun pihak-pihak lainnya. Pitch deck ini berisikan rangkuman tentang apa yang Anda kerjakan di dalam startup dan bagaimana prospeknya di masa depan.

Sedikit tips dari saya, investor biasanya melihat 3P.

  1. People
  2. Passion
  3. Product

Bukan terbalik ya, memang begitu adanya. Mereka akan melihat dulu background dari diri Anda, sebelumnya Anda pernah menghasilkan apa dan berkecimpung di bidang apa. Semisal, jika di pekerjaan sebelumnya Anda adalah sebuah tenaga pemasaran real estate yang ternyata punya passion untuk membuat startup sendiri namun ternyata startup yang anda akan buat ini bergerak di bidang navigasi untuk kelautan (misalnya). Investor akan tentu saja pada awalnya akan meragukan kemampuan Anda. Hal ini wajar-wajar saja dan dinamakan domain expertise.

Kemudian mereka akan melihat bagaimana cara Anda menjelaskan mengenai produk dan startup Anda. Tentu saja, cara Anda menjelaskan akan memberikan dampak yang besar. Dalam hal pitching ini adalah mutlak bagi seorang CEO yang memberikan presentasi. Tidak dapat diwakilkan.

Bagian terakhir yang akan mereka pertimbangkan barulah produk. Apakah produk ini bisa dipasarkan dimana-mana (scalable), apakah ada kompetisi, seberapa besar pangsa pasar yang akan disasar.

Akhir kata, tidak pernah ada rumusan yang baku tentang bagaimana langkah-langkah strategis dalam mendirikan sebuah startup. Setiap startup memiliki jalan masing-masing yang sudah ditentukan oleh Yang Di Atas. Hanya pelajaran-pelajaran berharga yang bisa didapatkan dari pengalaman.

Yang terakhir, tetap rendah hati dan jangan pernah berhenti bekerja keras serta berdoa.

Semoga membantu.

Tabik,
Yopie Suryadi, Founder, MailTarget.co – Email Marketing Software

 

Artikel ini dipublikasikan oleh Selasar.

Disunting oleh MailTarget Team


MailTarget.co adalah sebuah SaaS (Software as a Service) startup yang berasal dari Jakarta. Kami membuat e-mail marketing automation berbasiskan cloud computing yang bertujuan untuk membantu UKM untuk mengembangkan usaha mereka dan menjangkau audiens yang lebih luas lagi, didukung oleh Relevant Technology.