image courtesy of google

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh para pebisnis email marketing adalah bagaimana cara mengumpulkan email list dengan jumlah yang banyak dan waktu yang singkat. Tidak heran jika kita melihat banyak sekali para pebisnis email marketing yang pada akhirnya menghalalkan segala cara untuk mengumpulkan email list.

Pola pikir seperti itulah yang dapat menyebabkan banyak pebisnis terjebak dalam jual beli email list dengan list-purchasing company: We need new people to email to feed our sales organization. Hal tersebut mengakibatkan banyak pebisnis email marketing yang pada akhirnya merasa putus asa dan akhirnya bertindak secara gegabah, yang tentu saja dapat menyebabkan bahaya efek jangka pendek atau bahkan jangka panjang.

Yups, ribuan kontak tentu saja dapat Anda beli dengan begitu mudahnya, akan tetapi program email marketing Anda akan masuk ke dalam siklus kegagalan.

Tentu saja Anda akan merasa penasaran, mengapa membeli email list masuk ke dalam jurang bagi para pebisnis email marketing?

Sebelum kita masuk ke dalam ”lubang hitam” bisnis jual beli email list, mari kita lihat tiga cara yang paling umum dilakukan oleh para pebisnis untuk memperoleh daftar kontak:

1. Beli email list

Banyak para pebisnis yang melakukan kerjasama dengan para penjual email list untuk membeli daftar nama dan alamat email berdasarkan informasi geografis ataupun psikografis. Misalnya, Anda membeli suatu email list yang berisi 50.000 nama dan alamat email dari orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak di Jakarta Timur.

2. Sewa email list

Sama seperti membeli email list, para pebisnis juga melakukan kerjasama dengan para penjual email list. Namun, mereka tidak benar-benar memiliki email list tersebut. Para pebisnis tidak dapat melihat alamat email dari orang-orang yang dikirimkan email, sehingga mereka harus bekerjasama dengan para penjual email list untuk mengirimkan emailnya.

3. Mengumpulkan opt in email list

Seseorang secara sukarela memberikan alamat email, baik secara online ataupun secara pribadi, sehingga Anda dapat mengirimkan email kepada mereka. Tentu saja, orang-orang tersebut memilih jenis konten tertentu sesuai dengan yang mereka ingin terima — seperti: secara khusus meminta email pemberitahuan ketika postingan baru dari suatu blog diterbitkan. Dapat disimpulkan bahwa opt-in email address adalah hasil kepercayaan para pelanggan kepada Anda, karena mereka berpikir Anda memiliki sesuatu yang berharga dan mereka butuhkan.

Okay, sekarang Anda sudah tau beberapa macam cara untuk mengumpulkan email list. Di antara ketiga cara tersebut, cara yang paling benar dalam mengumpulkan email list adalah cara nomor 3. Sedangkan, langkah membeli dan menyewa email list merupakan cara yang dilarang atau bahkan tabu dalam dunia email marketing. Kami tegaskan sekali lagi, benar-benar tabu.

“Mengapa langkah yang paling mudah justru dilarang? Bukankah semakin cepat mengumpulkan email list akan semakin baik?”

Alasan yang pertama adalah vendor-vendor email marketing yang terkemuka tentu tidak akan membiarkan Anda untuk mengirimkan email ke email list yang didapatkan dari hasil jual beli. Di MailTarget.co, prioritas kami adalah memberikan yang terbaik, sebab itu kami concern dengan darimana email list Anda berasal (ada di pertanyaan sewaktu sign up), sistem kami akan langsung mengenali jenis spam yang dilakukan oleh customer (topik ini akan kami angkat dalam tulisan selanjutnya). Tentu saja, Anda sekarang mungkin akan berpikir, “Ahh gampang. Cuek aja.. Gak masalah”. Namun, para pelanggan yang tidak masuk dalam opt-in email biasanya memiliki daya kirim yang sangat buruk. Adanya satu alamat email yang “haram”, dapat meracuni daya kirim para pelanggan lain. Tentunya Anda ingin agar email yang dikirim benar-benar terkirim ke dalam inbox email, bukan?

“Good email address list aren’t for sale.”

Hal yang perlu Anda ingat, Anda tidak mungkin menemukan email list berkualitas tinggi yang dapat dibeli. Jika email list tersebut dijual, itu berarti daftar tersebut telah “dicabik-cabik” oleh orang-orang yang melakukan pembelian email list tersebut sebelumnya.
Jika seseorang memang memiliki email list yang berkualitas, tentu saja dia akan menyimpan untuk dirinya sendiri. Tidak mungkin dia akan membaginya kepada orang-orang melihat betapa berharganya email list yang dimilikinya. Apakah Anda akan rela berbagi email list sedangkan di dalamnya terdiri dari orang-orang yang telah secara sukarela memilih untuk menerima email dari Anda? Memang Anda rela bagi-bagi?

Kemudian alasan selanjutnya adalah orang-orang di dalam email list yang diperjual belikan dan disewakan tidak mengenali Anda. Adanya persewaan dan jual beli email list terkadang di dapat dari situs-situs. Kami pikir, kita semua di sini sudah setuju bahwa hal itu adalah cara yang kotor untuk mendapatkan kontak email marketing. Selain itu, faktanya, orang-orang yang terdapat di dalam email list tersebut sama sekali tidak mengenali perusahaan Anda. Mereka sama sekali tidak pernah merasa untuk bersedia menerima email dari Anda. Hal itu berarti menjadi kesempatan besar bagi para penerima email untuk menandai email Anda sebagai “spam”. Upss, sounds scary, right?

Daya kirim email dan IP reputation Anda akan sangat dirugikan. Jika Anda lebih memilih untuk membeli email list, Anda tidak memiliki cara untuk mengkonfirmasi seberapa sering alamat email tersebut telah dikirimi email atau dari mana alamat-alamat email tersebut berasal. Apakah Anda benar-benar akan mengambil resiko, tidak hanya mempertaruhkan daya kirim email Anda, tetapi juga IP address reputation Anda dan perusahaan Anda?

Alasan terakhir yang tidak dapat dipungkiri adalah Anda atau bahkan perusahaan Anda akan jadi mengganggu bahkan menyebalkan. Sekarang kami bertanya kepada Anda, apakah Anda senang bila mendapatkan email pada inbox yang berasal dari perusahaan yang tidak pernah sama sekali Anda dengar sebelumnya? Tentu saja, tidak. Jika seseorang tidak pernah mendengar atau tidak berusaha mengenal Anda sebelumnya, itu berarti mereka tidak ingin tahu mengenai perusahaan Anda. Kenyataan yang pahit, namun memang itu adanya. Itulah tugas Anda sebagai pebisnis untuk meyakinkan para pelanggan — melalui konten yang informatif — bahwa mereka harus tetap up to date dengan perusahaan Anda melalui email. Jika Anda terlalu memaksakan membuat konten email yang fit-to-all, bahkan Anda belum mengetahui apa kesukaan dari para pelanggan, hal tersebut akan menjadi sebuah resiko kehilangan kepercayaan para pelanggan dan menjadikan citra perusahaan Anda menjadi buruk di masa mendatang.

Ada suatu pepatah yang mengatakan, “Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian”. Hal itupun berlaku bagi siapapun, termasuk Anda, pebisnis email marketing. Lebih baik Anda bersusah-susah dahulu dalam mengumpulkan email list untuk dapat menikmati hasilnya di kemudian hari. Kami pun telah menyediakan tulisan Bagaimana Cara Mendapatkan Email List? sebelumnya.

Ingat, tidak ada cara mudah untuk mencapai kesuksesan.

Untuk artikel informatif lainnya seputar email marketing, silakan bergabung dengan channel telegram MailTarget.

MailTarget.co adalah sebuah SaaS (Software as a Service) startup yang berasal dari Jakarta. Kami membuat e-mail marketing automation berbasiskan cloud computing yang bertujuan untuk membantu UKM untuk mengembangkan usaha mereka dan menjangkau audiens yang lebih luas lagi, didukung oleh teknologi behavioural analytics e-mail automation MailTarget.